Universitas Muhammadiyah Surabaya meluluskan Didin Fatihuddin sebagai guru besar kesembilan

Uncategorized63 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Rektor Universitas Muhammadiyah SurabayaDr Dr Sukadiono MM, Prof Dr Didin Fatihuddin dikukuhkan sebagai SE M Si Prof Ilmu Ekonomi Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di kampus setempat, Sabtu 17 Februari 2024.

Setelah diwisuda, Sukadiono mengatakan UM Surabaya saat ini memiliki sembilan guru besar dan menargetkan penambahan jumlah guru besar pada tahun 2024.

Ini adalah guru besar yang kesembilan. Insya Allah tahun ini kami targetkan tiga guru besar lagi,” kata Succadiono.

Suko, sapaan akrabnya, berharap para guru besar di UM Surabaya dapat berkontribusi terhadap perkembangan institusi, khususnya di bidang akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Lebih lanjut, ke depan Rektor UM Surabaya berharap dapat memiliki minimal satu orang Guru Besar di setiap fakultas dan mempercepat proses perbaikan proses belajar mengajar di kampus sesuai arahan Wilayah VII Jawa Timur. Lembaga Pelayanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI).

Profesor Didin Fatihuddin menyampaikan kuliah ilmiah bertajuk “Penerapan Makroekonomi, Keuangan Korporasi dan Personal untuk Kesehatan Finansial di Era Ekonomi Digital (Financial Behavior)” pada acara wisuda tersebut.

Ia menjelaskan, kesehatan keuangan dapat dilihat dari tiga sudut pandang. Yang pertama adalah perspektif makroekonomi negara, yang kedua adalah perspektif korporasi perusahaan dan perspektif kesehatan keuangan individu keluarga.

Penerapan pengelolaan keuangan pemerintah, korporasi, dan swasta mempunyai indikator pengukuran yang berbeda-beda. Rasionya juga berbeda. Sumber data yang dihitung mungkin berbeda. Waktu pengambilan datanya juga berbeda.

Menurutnya, ada kesamaan dalam mengukur kinerja keuangan yang sehat (kesehatan keuangan).

“Kinerja keuangan pemerintah, perusahaan, dan individu adalah menghilangkan defisit dan menghasilkan keuntungan, artinya rasio pendapatan harus lebih besar dari pengeluaran. Keuntungan itulah yang disebut kesehatan keuangan,” kata Profesor. Didin.

Baca Juga  2 Resep Imlek 2024, Pangsit Ayam dan Lumpia

iklan

Jika seseorang mempunyai kelebihan uang, sebaiknya berinvestasi pada aset keuangan (surat berharga) dan aset properti dengan urutan sebagai berikut: tabungan, deposito, iuran dana pensiun, furnitur, pembayaran emas/dirham/dinar, kendaraan, sebaiknya ditambah. . Modal kerja.

“Kalau itu terjadi, belilah reksa dana, obligasi, dan saham,” ujarnya.

Pria kelahiran Kungan, Jawa Barat ini kini telah menulis 26 buku yang banyak diantaranya diterbitkan oleh penerbit besar dan menjadi buku referensi bagi mahasiswa.

Sementara itu, sebanyak 35 karya ilmiah dan publikasi jurnal telah diterbitkan di jurnal ilmiah dalam dan luar negeri.

Didin menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Siliwangi dengan gelar Sarjana Sains dan Angkatan IV pada tahun 1984, kemudian lulus dengan gelar Sarjana Sains dari Universitas Siliwangi pada tahun 1986 dan gelar Sarjana Sains bidang Ekonomi-Manajemen pada tahun 1995. UWP

Di tahun

Profesor Didi berpesan, memiliki kekayaan tidaklah wajib. Memang perlu untuk mendapatkan penghasilan, tetapi itu adalah kerja dan usaha yang wajib.

“Pendapatan harus lebih banyak dari pengeluaran – untung – jangan lupakan tabungan investasi. Kalau pendapatan berkurang, gaya hidup juga harus berkurang. Alokasikan pendapatan berdasarkan perencanaan keuangan dan tujuan keuangan yang jelas.

Pilihan Redaksi: 10 Kampus Penerima Dana Penelitian Terbanyak dari BRIN Universitas Muhammadiyah Surabaya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *