Psikiater menunjukkan perbedaan antara baby blues dan depresi pasca melahirkan

Uncategorized410 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Danti Filadini, Psikiater Universitas Indonesia (RSUI), menjelaskan perbedaannya. Baby blues Depresi pasca melahirkan bisa dilihat dari kesedihan yang berkepanjangan.

“Kalau baby bluesnya kurang dari dua minggu, lebih bersifat sementara. Sedangkan depresi postpartum sebaiknya berlangsung lebih dari dua minggu, sehingga kesedihan dan rasa tertekannya terus berlanjut, tidak mudah hilang,” kata Danti. Kamis, 16 November 2023.

dia berkata Stres pascapersalinan Seringkali hal ini tidak diketahui karena ibu baru menutupi gejalanya karena khawatir terlihat lemah dan tidak bersyukur memiliki buah hati. Selain itu, ibu baru juga khawatir dengan pendapat orang-orang di sekitarnya yang membandingkan bayinya dengan orang lain dan mengkritik kondisinya setelah melahirkan. Faktanya, setelah melahirkan, hormon-hormon dalam tubuh ibu menjadi tidak stabil dan jika ia memendam perasaan tersebut, ia rentan mengalami depresi hingga berdampak tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga pada anak-anaknya dan orang-orang di sekitarnya.

“Kalau kamu depresi, kurang semangat beraktivitas, emosi meledak-ledak dan sulit dikendalikan, akhirnya tidak fokus mengurus bayi, tidak bisa menyusui, tidak bisa beraktivitas sehari-hari. . Anda juga kurang memiliki perawatan diri, dan kesehatan bayi Anda otomatis terganggu.” tambah Danti.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini mengatakan, timbulnya depresi pasca melahirkan bukanlah suatu kebetulan. Depresi bisa terjadi satu bulan setelah melahirkan di tahun pertama. Sedangkan baby blues langsung muncul, sekitar 2-3 hari setelah lahir.

Gejala depresi pasca melahirkan antara lain hilangnya minat beraktivitas sehari-hari, gangguan tidur atau tidur berlebihan, gerakan lambat atau gelisah, rasa lelah sepanjang hari, kehilangan konsentrasi, dan seringnya pikiran untuk bunuh diri.

“Jika Anda mengalami setidaknya lima gejala dalam dua minggu dan terdapat stres serta masalah fisik dalam kehidupan sehari-hari, maka bisa dikatakan Anda mengalami depresi,” kata Danti.

Baca Juga  Okupansi Hotel Yogya Hampir 100 Persen Populer Liburan Nataru, Parangtritis dan Kaliurang

iklan

Berbeda dengan depresi pada umumnya
Juga stres dan Depresi Apa yang dihadapi orang awam dan ibu-ibu berbeda-beda. Secara umum, masa nifas dimulai pada masa kehamilan dan gejalanya dapat muncul empat minggu setelah kelahiran dan berlangsung selama 6-8 minggu, atau dapat memakan waktu bertahun-tahun jika tidak ditangani dengan baik.

Sementara itu, prevalensi depresi pasca melahirkan pada ibu tergolong rendah karena kondisinya lebih parah dan dapat diobati dibandingkan baby blues yang gejalanya bersifat sementara, ringan, dan tidak berpotensi merugikan diri sendiri.

“Depresi pasca melahirkan menimpa satu dari tujuh wanita. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, 50 hingga 70 persen ibu pasca melahirkan di Indonesia mengalami baby blues, dan 22,3 persen mengalami depresi. Pascapersalinanjelas Danti.

Anda dapat menggunakan Skala Depresi Pasca Melahirkan Edinburgh (EPDS) online untuk mengetahui apakah keadaan orang-orang terdekat Anda dapat menyebabkan depresi pasca melahirkan. Ia berharap para ibu yang baru melahirkan atau keluarganya tidak melakukan diagnosis sendiri dan terus berkonsultasi dengan profesional serta tidak ragu untuk menceritakan kisahnya.

Pilihan Editor: Ayah Bisa Terkena Baby Blues, Begini Penjelasannya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *