Nadiam Makarim: Jika ingin anak membaca dan menulis, pilihlah buku yang paling menarik

Uncategorized421 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiam Anwar Makarim, upaya menciptakan literasi dini sangat penting. Kalau dia berhasil membaca dan menulis sejak usia dini, ujarnya Nadium Makarim, maka dalam hidup anak mencintai jiwa dan buku. Dengan cara ini, kekuatan menulis yang lebih tinggi dibangun.

“Tapi bukunya ada atau tidak? Dan kualitasnya bagaimana?” Nadiam berbicara pada pembukaan Kongres Bahasa Indonesia ke-12 yang digelar di Jakarta pada Rabu malam, 25 Oktober 2023.

Setiap kali Nadeem berkunjung ke sana, ia menceritakan pengalamannya dan selalu meminta untuk melihat kondisi perpustakaan di sekolah. Ia mengatakan, rata-rata buku yang ada di setiap perpustakaan sekolah dasar (SD) semuanya sama. Buku-buku itu tampak seperti ditumpuk di perpustakaan: ditaburi debu tebal dan terkadang diikat dengan tali rafia.

Suatu ketika, dia membuka tumpukan buku di perpustakaan sekolah dasar yang diikatkan pada Rafia. Nadium menemukan buku tentang cara bercocok tanam. Lalu, ada buku lain yang orang tua ingin anaknya baca.

“Menurut saya ini salah satu kesalahan fatal sistem pendidikan. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara lain. Kalau ingin anak bisa membaca dan menulis, silakan pilih buku yang ingin dibaca anak. Ini dia pilihan anak-anak,” katanya.

Menurut Nadeem, prinsip dasarnya adalah menyediakan buku-buku paling menarik yang disukai anak-anak. Bisa saja buku di Indonesia, bisa juga buku yang diterjemahkan ke luar Indonesia lalu dicetak jutaan eksemplar. Buku-buku tersebut kemudian didistribusikan ke sekolah-sekolah dengan tingkat melek huruf terendah.

Upaya ini sedang berlangsung. Sebanyak 15,4 juta eksemplar buku didistribusikan ke lebih dari 20 ribu sekolah. Baik di PAUD maupun SD sekitar 3T. Kepala Badan Bahasa Bapak Aminuddin Aziz mengatakan, “Ini merupakan komitmen untuk meningkatkan kemampuan menulis kita pada Merdeka ke-23 di kelas Lajar.

Baca Juga  Film Queen of Black Magic sedang ramai di media sosial untuk mendapatkan penghargaan internasional

iklan

Menurut Nadeem, langkah ini sangat sukses. Ketika buku sampai di Daerah Tertinggal, Tertinggal, dan Terluar atau 3T, guru dilatih untuk menceritakan kembali isi buku tersebut. Kemudian sekolah diminta mengadakan sesi membaca harian. Selain itu, agar penataan buku di perpustakaan lebih menarik, buku-buku tersebut dijajarkan layaknya toko buku. “Dan akhirnya anak-anak menggerebek buku-buku itu.”

Setidaknya perpustakaan harus menjadi tempat pendistribusian buku, tambahnya. “Semua perpustakaan kita latih, (buku) dianjurkan dibawa pulang, buku dibawa pulang dan dikembalikan,” ujarnya.

Nadeem berpesan agar buku-buku disimpan. Sekolah Tidak hanya terpusat di perpustakaan, namun tersebar. Sekolah dapat membuat beberapa sudut baca untuk anak dengan berbagai macam buku yang menarik.

Pilihan Redaksi: Rektor UIN Wolisongo Semarang tersandung tuduhan penipuan, dalam skripsi dosen

Selalu update informasi terkini. Simak berita terkini dan berita pilihan dari Tempo.co di channel Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate bergabung Pertama, Anda perlu menginstal aplikasi Telegram.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *