Jumlah curah hujan di Jabodetabek lebih tinggi di bagian utara, lihat peta dan informasi ini

Uncategorized269 Dilihat

TEMPO.CO, JakartaHujan Penyebarannya dari laut ke arah utara Jakarta pada malam dan pagi hari. Sirkulasi ini diintensifkan oleh konveksi di Lampung.

Peneliti Iklim di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BrinInformasi tersebut dibagikan Erma Yulihustin pada Selasa malam, 30 Januari 2024. Pada saat yang sama, hujan kembali turun di sebagian Jabodetabek.

Irma menunjukkan peta arah angin yang menunjukkan bahwa angin kencang dari utara Jakarta berperan besar dalam penyebaran hujan dari Lampung. Peta tersebut berasal dari Pemodelan Sadewa atau Sistem Peringatan Dini Bencana Berbasis Satelit BRIN.

“Ini (Angin Utara Kuat) yang kita sebut CENS,” cuitnya di akun media sosial X pribadinya. Ia menambahkan, “Perbedaan angin yang jelas ini tidak mungkin ditangkap dari model internasional. SADEWA berhasil menangkapnya.”

CENS adalah pasang surut lintang utara khatulistiwa. Kata yang sering digunakan adalah seruan dingin dari wilayah Siberia. Dalam keterangan sebelumnya, Irma menjelaskan fenomena CENS yang memperkuat angin muson dari Asia menjadi penyebab terjadinya banjir di Jabodetabek.

Menggunakan peta sebaran curah hujan Jabodetabek dari BMKG, Irma menampilkan hasil CENS terkini periode 29 Januari pukul 07.00 WIB hingga 30 Januari pukul 07.00 WIB. Peta tersebut menunjukkan sebaran curah hujan di Jabodetabek tidak berada di bagian selatan (Bogor).

iklan

Namun intensitasnya di utara hampir 60 mm, katanya seperti dikutip di akun media sosialnya. Curah hujan 60 mm per hari dianggap hujan deras.

Jika penyebaran seperti ini atau bahkan lebih parah terus terjadi pada minggu pertama bulan Februari, Erma menyarankan pemerintah dan masyarakat di Jabodetabek segera mengambil tindakan untuk mencegah banjir. Ingat, Jakarta mendapat banyak (banjir) dari Bogor, katanya.

Baca Juga  Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat meminta Joe Biden mengirim senjata ke Israel

Bos yang berbeda BMKG Dwikorita Karnawati kini menjadi puncak musim hujan, yakni akhir Januari hingga Maret mendatang. Menurut perkiraan BMKG, tingginya curah hujan pada musim hujan tidak akan menimbulkan masalah jika dihitung secara bulanan.

Dalam 30 tahun terakhir, menurut rata-rata bulanan, volumenya mencapai 400 mm dalam satu bulan. Namun, hujan lebat setiap hari bisa terjadi kapan saja, tambahnya.

Jadi curah hujannya bisa mencapai lebih dari 100 mm per hari, kadang 150 mm, tentu ini mengganggu lingkungan, bisa menyebabkan tanah longsor, bisa menyebabkan banjir, kata Dwibaro di Gedung Sate, Bang Bang, Selasa.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *