Joja Hari Perempuan Internasional 2024, Srikandi UGM: Pemerintah, Dengarkan Suara Perempuan!

Uncategorized40 Dilihat

TEMPO.CO, JakartaPeringatan Hari Perempuan Internasional Jumat 8 Maret 2024 di Yogyakarta “Ayo Kak bawa pulang!” Ini akan disebutkan dengan temanya. Tema ini diangkat karena masih banyak permasalahan perempuan yang belum terselesaikan secara bijak oleh pemerintah.

Kepala Departemen Aksi Pahlawan dan Propaganda UGMNurul Anisa menyadari peran perempuan di bidang sosial dan politik masih tergolong kecil.

“Tentu saja perempuan sudah mulai berpartisipasi dalam peran sosial dan politik, namun jumlahnya masih relatif kecil dan hanya memenuhi kebutuhan keterwakilan perempuan,” kata Anne. Tempo.coPada tanggal 8 Maret 2024.

Ann juga mencatat, beban ganda yang sering dipikul perempuan menjadi salah satu alasan mengapa mereka dianggap berpartisipasi di sektor produktif. Selain itu, sikap masyarakat yang hanya mementingkan perempuan dalam urusan rumah tangga membuat sulitnya berpartisipasi dalam politik.

Selain itu, perempuan masih menghadapi tantangan di berbagai bidang karena kuatnya sistem patriarki yang memerlukan perjuangan lebih.

“Dalam ranah politik, perempuan sulit mendapatkan tempat atau posisi yang strategis. “Karena biasanya posisi-posisi strategis utama diisi oleh laki-laki,” ujarnya.

Di bidang ekonomi, perempuan berusaha meningkatkan perekonomian keluarga dengan bekerja. Namun masih banyak laki-laki atau suami yang tidak mau berbagi peran dalam keluarga sehingga menyulitkan perempuan untuk mendapatkan kesempatan yang sama.

“Perempuan juga tertindas saat bekerja. Mahasiswa pariwisata Fakultas Ilmu Budaya UGM ini mengatakan, “Perempuan yang bekerja mendapat beban ganda dengan membagi waktunya.

iklan

Selain itu, sulitnya perempuan mengajukan cuti haid di dunia kerja. Karena persetujuan hanya diambil untuk menjadikan perempuan “istimewa”. Faktanya, ceramah yang disampaikan kepada ayah yang sedang cuti hamil memiliki pro dan kontra.

Selain laki-laki atau suami, banyak perempuan yang menilai cuti ayah menjadi beban tambahan bagi ayah. Sebab, selama di rumah, istri atau perempuan juga ikut menjaga suaminya, akibat budaya patriarki yang sudah mengakar.

Baca Juga  Tagar Prabowo-Gibran yang diposting Koalisi Pemilu Bersih di akun X Kementerian Pertahanan merupakan pidana pelanggaran nilai.

Masih sulitnya perempuan mendapatkan akses pendidikan yang setara, terutama di daerah terpencil. Padahal, setelah lulus perguruan tinggi, rata-rata perempuan bekerja di bidang yang tidak jauh dari sektor domestik. Di sisi lain, di bidang kesehatan, perempuan sulit mendapatkan pelayanan kesehatan seluas-luasnya. Perempuan menderita akibat kurangnya akses terhadap fasilitas kesehatan, seperti tingginya angka kematian ibu hamil dan stunting.

Dia mencatat bahwa pemerintah telah mulai menegakkan hak-hak perempuan secara hukum. UU TPKS. Namun penerapan aturan tersebut tetap harus dilaksanakan.

“Kalau hanya sekedar undang-undang, tanpa implementasi yang jelas maka permasalahan yang dihadapi perempuan akan tetap ada dan tidak terselesaikan, seperti cuti haid, pekerja migran, buruh dan lain-lain,” ujarnya.

Di tahun Merujuk pada Hari Perempuan Internasional 2024, dia mengatakan pemerintah masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk menyelesaikan permasalahan perempuan. Selain itu, pemerintah harus mendengarkan suara perempuan mengenai hak-hak yang belum terpenuhi.

Pilihan Redaksi: Hari Perempuan Internasional 2024 Joja Kara: Sikat Kaki Gosok Gigi Adili Jokowi



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *