Guru Besar UGM berulang kali panik setelah petisi Bulaksur dan tuntutan kampus, Prof Kontjoro: Saya tidak pernah takut.

Uncategorized67 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta – Guru Besar Psikologi Universitas Gadja Mada (UGM), Profesor Koentjoro Soeparno dimakamkan melalui pesan WhatsApp (WA) ke nomor pribadinya pada Sabtu, 16 Maret 2024. Teror itu terjadi setelah ia mengikuti aksi bertajuk “Sus Kampus: Hormati Etika dan Konstitusi, Perkuat Demokrasi”. Dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 12 Maret 2024 di Aula UGM.

“Aku sudah tua,” katanya. Koentjoroke Tempo.coMenyalin isi pesan tersebut, Selasa 19 Maret 2024

Teks pesan tersebut berbunyi: “Pemilu telah dicurangi, pemilu telah dicurangi. Kakek Anda. Koe arep mbelo koncomu 03 to, ya Tuhan… Saya dari Jawa Tengah tapi saya kurang puas dengan Ganjar. Kok gak bilang pemilunya curang, yakin menang.. karena janggutnya bengkok..tulis pesan yang dikirimkan pada pukul 06.45 WIB.

“Terima kasih, tapi saya lebih menghormati kalau laki-laki. Jangan berpura-pura jadi KPK,” ujarnya.

Diketahui, pengirim pesan tersebut sebelumnya telah menuliskan kata Pengabdian dan Pengaduan kepada Masyarakat KPK dengan menggunakan gambar profil logo Komisi Pemberantasan Korupsi. Menurut Koentjoro, foto profil pria tersebut dihapus setelah dia menjawab, “Sopo bilang dia KPK.Dia berkata.

Koentjoro kemudian mencoba melacak pengirim pesan tak dikenal tersebut dengan meminta bantuan temannya. Diketahui pengirim pesan tersebut adalah penipu. “Tempatnya di Batam,” kata Contjoro.

Pagi tadi, Contjoro mendapat pesan dari temannya di Polda DIY. Pesan yang disampaikan untuk menyelidiki teror tersebut. Namun Contjoro menolak melaporkan kejadian teroris tersebut. “Saya bilang padanya tidak ada minat.

Teror yang dihadapi Cointjoro tidak membuat dirinya patah semangat sedikit pun. “Saya tidak pernah takut. DiantaranyaSeorang pengganggu Dan dukungan adalah lebih banyak dukungan.”

Tapi Koinu, Nyehowa Zedlyena Khngeber Nkhil Ina. “Saya pernah mengalami teror ini sebelumnya. Pilihan (memilih) dan kemudian –Pilihan (Pemilu 2024),” ujarnya. Sebelum proses pemungutan suara,

Baca Juga  Usai kemenangan Bulu Tangkis All England 2024, Indonesia berencana meraih emas

Permohonan Bulaksur sendiri digelar pada Rabu, 31 Januari 2024. Saat itu sivitas akademika UGM mengumpulkan beberapa guru besar, guru, dan mahasiswa di aula UGM. Presiden Joko Widodo atau Jokowi dianggap tersingkir.

iklan

Setelah membaca Permohonan Bulaksurliuk itu berulang Berteriak Melalui akun Instagram pribadinya. “Apa yang datang dari Instagram lebih canggih, lebih strategis. Karena ketika terjadi sesuatu, Anda langsung terlibat dalam banyak hal. Lalu saya bilang, Berteriak Seharusnya begitu,” jelasnya.

Ini bukan hanya kekerasan. Berteriak Di media sosial, Koentjoro dicari oleh orang tak dikenal yang datang ke Fakultas Psikologi UGM. Pria tanpa identitas itu ditemui Juni Prianto, anggota Divisi Keamanan dan Keamanan Kampus (SKKK) Fakultas Psikologi yang sedang bertugas hari itu.

Berdasarkan keterangan June, sekitar pukul 10.00 WIB, ada pria tak dikenal yang sedang duduk di dekat meja sambil mengaji. Juni mendekati pria itu karena dia pikir dia akan mengganggu pembicaraan. Seseorang yang tidak dikenal juga menyatakan minatnya untuk bertemu dengan Koenjoro.

“Kalau saya tidak turun gunung dan menemui Pak Koin, negara ini akan menderita,” kata Juni kepada Tempo menirukan ucapan orang asing pada Selasa, 19 Maret 2024.

Sesuai SOP kami, kontak dengan instruktur atau otoritas harus dikonfirmasi terlebih dahulu, kata Juni. “Saat itu ayahnya mengaku dari Kalimantan. Dia berada di Bentor, dia tinggi tetapi tubuhnya tidak sebesar itu. Dia berpakaian bagus,” katanya.

Setelah itu, menurut Koentjoro, tidak ada lagi yang mau atau mendekatinya. Ia tidak terlalu terganggu dengan aksi teroris yang dialaminya. “Adapun rencana selanjutnya, aku Tunggu dan lihat. “Saya tidak ingin gerakan ini berubah menjadi keberpihakan,” kata Contjoro.

Baca Juga  Mario Aji Kurang Ideal di FP Moto3 Mandalica, Gripnya Bermasalah.

Koentjoro menyatakan dirinya hanya ingin memilih kampus. Ia masih merasa Jokowi masih lulusan UGM, artinya masih satu keluarga dengannya. “Saya masih mengandung Pak Jokowi di universitas ini. Saya ingin itu tetap lDan lancar Ketika masa jabatannya berakhir,” ujarnya.

Dia bilang dia tidak tertarik. “Guru besar adalah pemikir nasional, guru besar adalah penjaga etika,” kata Komentjoro.

Pilihan Editor: UGM dan UI Jadi ‘Jewer’ Jokowi Lagi 3 Poin untuk Daya Tarik Kampus dan 7 Poin untuk Daya Tarik Salemba



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *