Apakah alasan Gen Z susah menabung karena sangat mengandalkan Paylater?

Uncategorized283 Dilihat

TEMPO.CO, JakartaJenderal Z Gen Z merupakan generasi yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012. Gen Z dikenal sebagai generasi yang manja dan sering mengeluh, namun juga dikenal dengan masalah berhemat. Ada beberapa alasan mengapa Gen Z sulit menabung, salah satunya adalah besaran gaji Gen Z yang tidak sepadan dengan biaya hidupnya.

Selain itu, faktanya saat ini 24 persen masyarakat Indonesia memiliki dana darurat yang cukup berdasarkan hasil penelitian. Penemu31 persen Gen Z tidak memiliki tabungan. Meski hemat, jumlahnya tidak melebihi Rp 10 juta.

Artikel berikutnya akan membahas lebih detail tentang alasan lain Generasi Z kesulitan menabung.

Alasan mengapa Gen Z sulit diselamatkan

1. Takut Ketinggalan (FOMO)

FOMO Gen Z adalah salah satu hal yang paling sulit untuk diselamatkan. Berdasarkan hasil sensus BPS tahun 2020, Gen Z merupakan kelompok yang berpotensi menciptakan pangsa pasar di berbagai segmen, layak dan produktif, serta dapat mempengaruhi arah pembangunan ekonomi dan perilaku konsumsi di masa depan.

Meski banyak orang yang menganggap gaya hidup Gen Z sangat boros, namun sebenarnya ada faktor yang mempengaruhi kecenderungan tersebut dan membuat mereka sulit menabung.

Salah satu penyebabnya adalah akses internet yang semakin mudah. Gen Z dapat mengakses informasi dengan cepat, terbuka Perdagangan elektronikdan terhubung dengan media sosial.

Jangkauan internet yang luas ini, menimbulkan dampak negatif seperti fenomena FOMO atau “Takut kehilanganSaat seseorang mengalami FOMO, ia merasa cemas dan takut ketinggalan tren.

Penelitian menunjukkan bahwa Gen Z yang mengalami FOMO memiliki kepuasan hidup yang lebih rendah karena membandingkan dirinya dengan orang lain.

Bahkan, parahnya FOMO bisa membuat seseorang mengambil keputusan tergesa-gesa saat membeli sesuatu, tanpa riset atau analisis yang matang.

2. Ketergantungan pada Paylater

Alasan Gen Z sulit menabung adalah karena sistem kredit fintech Dan Bayar nanti Saat ini.

Ada beberapa fakta menarik yang perlu diperhatikan tentang perilaku keuangan Gen Z. Berdasarkan data OJK pada Desember 2022, Generasi Z dan Generasi Milenial tampak memiliki tingkat utang yang lebih tinggi dibandingkan generasi lainnya, terutama dalam hal kepemilikan rekening dan jumlah tunggakan pinjaman. Pinjaman FinTech P2P.

Baca Juga  Polisi Iptu FN Bunuh Pelarian Debt Collector Polda Sumsel: Mobil Avanza Tunggak 2 Tahun

Dari statistik ini, 62% akun diaktifkan. Pinjaman Fintech P2P 19-34 tahun dan 60% dari total pinjaman fintech Ini juga ditujukan untuk kelompok umur yang sama.

Tingginya tingkat utang di kalangan Gen Z bukanlah hal yang mengejutkan mengingat akses mereka terhadap teknologi semakin maju. seperti aplikasi digital fintech Pendanaan dan fitur Bayar nanti. Permudah proses pengajuan pinjaman dengan persyaratan sederhana dan praktis.

Selain itu, aplikasi untuk membeli On line dan fitur Bayar nanti Memberikan kemudahan bagi penggunanya dalam bertransaksi. Namun di sisi lain dapat mendorong praktik utang konsumen.

Meskipun memiliki pendapatan, ketidakmampuan mereka mengelola keuangan mendorong mereka untuk melakukan konsumsi. Jika pendapatan tidak cukup untuk menutupi pengeluaran, utang bisa menjadi sumber masalah di kemudian hari, namun hanya bersifat sementara.

3. Tingginya biaya kebutuhan hidup

Sebagian besar Generasi Z menghadapi beban biaya hidup yang tinggi, termasuk biaya pendidikan yang terus meningkat, biaya perumahan yang tinggi, dan hutang pelajar yang besar.

Menurut laporan dari Federal Reserve, biaya pendidikan perguruan tinggi telah meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir, melebihi tingkat inflasi.

Akibatnya banyak generasi ini yang terbebani utang pendidikan atau Pinjaman pelajar Memulai masa dewasa membuat menabung jauh lebih sulit.

4. Pendapatan rendah

iklan

Meskipun Generasi Z paham teknologi dan berpendidikan tinggi, mereka sering kali memasuki pasar kerja dengan pendapatan yang relatif rendah.

Menurut laporan Pew Research Center, tingkat pengangguran dan ketidakamanan kerja sering kali tinggi di kalangan generasi ini, yang mengakibatkan pendapatan tidak dapat diprediksi dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, apalagi menabung untuk masa depan.

5. Ketidakstabilan ekonomi

Tantangan perekonomian global seperti resesi dan pandemi Covid-19 telah meningkatkan ketidakpastian finansial bagi Generasi Z.

Baca Juga  Mahkamah Agung menolak gugatan Jokowi CS dalam kasus pencemaran udara Koalisi Modal: Kemenangan untuk Seluruh Warga Negara

Banyak yang mengalami pengurangan jam kerja, pengangguran atau berkurangnya pendapatan selama masa perekonomian sulit ini, sehingga sulit untuk menabung atau bahkan memenuhi kebutuhan dasar.

Tips mengatur keuangan untuk Gen Z

Untuk mengatasi berbagai faktor yang membuat Gen Z sulit menabung, berikut beberapa tips mengatur keuangan Gen Z.

1. Penganggaran

Pertama, Penganggaran 50:30:20. Kata ini sering digunakan oleh Influencer Keuangan telah menjadi metode umum bagi generasi muda saat ini. Namun, penting untuk terlebih dahulu memahami alasan melakukan hal ini Penganggaran Dalam metode ini.

Banyak orang kesulitan untuk menabung karena mereka tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang berapa banyak yang harus dialokasikan untuk keinginan, kebutuhan dan tabungan, seringkali pendapatan mereka dibelanjakan untuk keinginan dan kebutuhan tanpa ada yang tersisa.

Secara metodis Penganggaran Dalam hal ini pendapatan dapat diatur dengan perbandingan 50:30:20. Misalnya saja Anda mempunyai gaji sebesar Rp3.000.000,- maka Anda bisa mengalokasikan 50% untuk kebutuhan sehari-hari seperti perumahan, makanan, dan transportasi.

Kemudian, 30% dapat dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan seperti membeli pakaian, sepatu, atau hiburan. Kafe manis. Sisanya yang 20% ​​dapat disimpan sebagai tabungan.

Dengan cara ini, segala kebutuhan, keinginan, dan tabungan dapat terpenuhi secara seimbang. Namun, metode Penganggaran Bukan hanya 50:30:20 saja, namun bisa disesuaikan dengan pemasukan dan pengeluaran bulanan masing-masing individu.

2. Terus menabung meski sedikit

Kemudian, puncak kedua sesuai dengan pepatah “sebentar lagi, bukit akan menjadi bukit”.

Dalam konteks menabung, contoh ini mengajarkan pentingnya menabung dalam jumlah kecil namun teratur setiap bulan.

Menabung secara konsisten membantu mengembangkan kebiasaan menabung sejak dini, yang dapat dilakukan sepanjang hidup.

Dengan cara ini, Anda tidak hanya menghemat uang, tetapi juga mempraktikkan kebiasaan positif yang dapat diwariskan hingga hari tua.

GHEA CANTIKA NOORSYARIFA

Pilihan Editor: 6 Masalah yang Sering Dikonsultasikan Gen Z ke Terapis



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *