Angga Dwimas Sasongko: Film Heartbreak Motel memadukan 3 format bioskop berbeda.

Uncategorized296 Dilihat

TEMPO.CO, Jakarta Film Motel yang memilukan Adaptasi novel laris karya Ika Natasa ini berupaya menampilkan sesuatu yang baru. Angga Dwimas Sasongko selaku proyek terbaru sutradara Visinema Pictures memadukan 3 format bioskop berbeda.

Diakuinya, dalam membuat film dari novel kompleks hingga ke layar lebar, Angga menawarkan sesuatu yang baru untuk diciptakan. Sebuah rollercoaster yang emosional Untuk penonton. “Jadi kami banyak melakukan eksplorasi visual di film ini. Selain format digital, kami juga menggunakan format film seluloid.,kata Angga saat ditemui di Jakarta Selatan, Rabu, 6 Desember 2023.

Heartbreak Motel 3 menggabungkan format sinematik.

Diakui Angga, novelnya sendiri punya kompleksitas yang menarik. Karakternya berkembang ke berbagai dunia. Hal inilah yang membuat ide ini terungkap karena cerita terjadi di 3 dunia dalam kombinasi 3 format sinematik yang berbeda.

Setelah menemukan aktor yang tepat, ia memikirkan bagaimana cara membuat film tersebut menarik. “Dari segi storytelling dan produksi, karena ceritanya mencakup 3 dunia, saya berpikir untuk menggabungkan 3 format berbeda. Eksplorasi penggabungan format digital dengan film seluloid 16mm dan 35mm,” antusias Angga.

Alasan menggunakan film seluloid

Menurut Angga, proyek ini sekaligus Bab berikutnya Dari Visinema, menghasilkan film drama berkualitas. Setelah beberapa tahun, akhirnya ia kembali membuat film dengan menggunakan seluloid. Sebagai sineas, Angga mengaku ingin membuat setiap film yang ia garap Pembuat sejarah Atau sutradara yang lebih baik.

“Setelah film 13 bom di Jakarta Dengan banyaknya adegan aksi, mungkin ini saatnya kembali ke masa ketika saya belajar membuat film. Bagaimana “Buat film berbahan seluloid dengan disiplin dan hati-hati,” kata sang pendiri Gambar Visinema Ini.

Selain itu, kata dia, alasan penggunaan film seluloid adalah untuk mengingatkan kita bahwa pembuatan film tidak boleh sia-sia. Jadi baginya ini adalah waktu yang tepat untuk kembali mempelajari sesuatu yang baru dan dia sangat menantikannya.

Baca Juga  Baintelkam Polri menerbitkan SKCK untuk Ganjar dan Muhaimin

Di sisi lain, Angga memutuskan eksperimen ini karena menemukan cerita yang cocok. “Saya ingin membuat film seluloid lagi, tapi saya tidak menemukan alasan yang tepat untuk ceritanya. Kemudian dalam proses penulisan dengan Mas Alim (penulis skenario), film ini tampak cocok, sebagian dibuat dari seluloid 16 mm dan sebagian lagi dibuat dari seluloid 16 mm. pada 35 mm, “katanya.

iklan

Sekadar informasi, film seluloid merupakan film yang dibuat dari pita seluloid sebagai bahan baku dalam proses kimia. Film ditampilkan kepada penonton melalui sistem proyeksi.

Tantangan pembuatan film dengan seluloid

Menggunakan film seluloid 16 mm dan 35 mm tidaklah mudah. Ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi menjelang proses syuting pada Januari 2024. “Kamera yang kami gunakan Kamera terakhir digunakan pada tahun 2011. Jadi setelah 13 tahun kamera tersebut tidak digunakan karena format film 16mm dan 35mm.kata Angga.

Ia mengatakan, direktur fotografi dan produser saat ini berada di Taipei untuk membuat film yang digunakan untuk pengujian kamera. “Pekerjaannya akan pan-Asia karena di Indonesia belum ada infrastruktur. Gambarnya baru bisa kita lihat setelah dibuat di Taipei dan dikirim ke Indonesia. Gambarnya tidak bisa dilihat langsung dalam bentuk digital shot,” ujarnya.

Tidak hanya itu, proses pembuatan film seluloid membutuhkan kepercayaan. “Itu harus Keyakinan Lebih dari satu sama lain ketika Anda bekerja dengan digital di mana semua orang dapat melihat tampilan yang sama. “Kita tunggu dulu gambarnya, bukan film seluloid,” kata Angga.

Pilihan Editor: Heartbreak Motel yang dibintangi Laura Basuki dan Reza Rahadian.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *