2 Kader PSI Mundur, Singgung Soal Orde Baru, Pelanggaran HAM Prabowo Subianto dan Isu SARA Pada Pilpres 2019

Tak Berkategori273 Dilihat

Losergeek.org.CO, Jakarta – Dua kader Partai Solidaritas Indonesia atau PSI, Estugraha dan Dwi Kundoyo, memutuskan mundur setelah pertemuan petinggi partai tersebut dengan calon presiden sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Keduanya menyinggung soal masa lalau Prabowo yang dianggap kelam. 

Egha, sapaan Estugraha, yang merupakan wakil ketua umum kelompok relawan Ganjarian Spartan dan Dwi Kundoyo yang menjabat sebagai sekretaris jenderal di kelompok yang sama mengumumkan pengunduran diri mereka pada hari ini, Senin, 7 Agustus 2023.  Egha merupakan Bakal Calon Anggota Legislatif (Bacaleg) PSI untuk DPRD Kota Bogor sementara Dwi Kundoyo merupakan Bacaleg untuk DPRD DKI Jakarta.  

Egha mengatakan bahwa PSI sebagai partai yang memiliki ideologi tidak perlu melakukan sambutan terhadap Prabowo. Apalagi kata Estu, disertai dengan gelar karpet merah.

“Berpikir Prabowo sebagai alternatif pemimpin saja sudah tidak pantas, apalagi “menggelar karpet merah” kepadanya,” kata dia saat konferensi pers di Ciasem Kafe, Jakarta Pusat, Senin, 7 Agustus 2023.

Singgung soal Orde Baru, Pelanggaran HAM dan Isu SARA pada Pilpres 2019

Dwi bercerita, dirinya adalah pendiri sekaligus presidium Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Se-Jakarta (FKSMJ) pada periode pertama. Ia menyebut organisasi itu merupakan salah satu kekuatan terbesar mahasiswa yang berhasil menjatuhkan pemerintahan otoriter Soeharto.

Kala itu, Dwi menyebut Prabowo Subianto mendapatkan banyak privilege melalui praktik KKN. Prabowo, kata dia, juga banyak menikmati pemerintahan korup pada era orde baru.

“Penolakan saya terhadap Probowo Subianto sudah saya mulai sejak menjadi anggota HMI tahun 1992. Saat itu, bersama kawan-kawan seperjuangan tidak henti-henti menyuarakan keadilan, kemanusiaan bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Dwi.

Oleh sebab itu, pada Pilpres 2014 dan 2019, Dwi berkukuh menjagokan Joko Widodo alias Jokowi. Selain rekam jejak Jokowi yang baik, Dwi menegaskan dirinya menolak Prabowo jadi pemimpin di Indonesia karena tak henti-hentinya memainkan isu SARA dengan bergandengan bersama kelompok radikal dan intoleran. Tak hanya itu, Dwi mengatakan Prabowo kerap disebut-sebut sebagai dalang penculikan aktivis 1998.

“Melihat rekam jejak Prabowo menguatkan saya untuk berada dalam posisi melawan, menentang, dan mengambil sikap untuk pergerakan menolak Prabowo memimpin negeri yang berbhineka ini,” kata Dwi.

Iklan

Pilihan editor: Prabowo Subianto Kembali Dihantui Isu Pelanggaran HAM, Ini Kata Gerindra

“(Prabowo) mengikut sertakan kelompok radikal dan intoleran dalam pilpres 2014 dan 2019,” ucapnya.

Estu dan Dwi mengikuti langkah Ketua Umum Ganjarian Spartan, Guntur Romli, yang menyatakan mundur dari PSI pada Sabtu lalu. Guntur menyatakan mundur setelah sebelumnya mengingatkan kepada PSI soal dukungan yang mereka berikan kepada Gubernur Jawa Tengah sekaligus capres dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Ganjar Pranowo. 

PSI dan Prabowo akui punya kesamaan pandangan

Sebelumnya, Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Kantor DPP PSI di Jalan Jakarta Pusat, Rabu, 2 Agustus 2023. Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, menyatakan mereka berbicara banyak hal dalam pertemuan itu. Dia menyatakan menemukan kesamaan cara pandang dengan Prabowo.

Grace belum menegaskan apakah PSI akan memberikan dukungan kepada Prabowo. Dia menyatakan masih menunggu arahan dari Presiden Jokowi untuk menentukan arah dukungan partainya. Hanya saja, dia menyatakan bahwa saat ini tanda-tanda arah dukungan Jokowi tampak semakin terlihat jelas.

Prabowo pun menyatakan gembira karena diundang menyambangi PSI. Ia mengaku tak mempersoalkan besar kecil sebuah partai kala menjalin silaturahmi. Senada dengan Grace, Menteri Pertahanan itu menyebut punya banyak kesamaan dengan PSI. Dalam momen pertemuan tadi, Prabowo mengaku banyak menyampaikan pandangan yang ternyata cocok dengan pandangan PSI. 

Pria yang juga merangkap sebagai Ketua Dewan Pengarah Partai Gerindra itu pun tak sungkan menyatakan mengajak PSI untuk bergabung dalam Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR) yang dibentuk partainya bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk menghadapi Pilpres 2024.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *